Halaman

Senin, 07 April 2014

Kerja Menurut Al-Qur'an dan Hadist


Kerja dalam pengertian luas adalah semua bentuk usaha yang dilakukan manusia, baik dalam hal materi maupun non-materi, intelektual atau fisik maupun hal-hal yang berkaitan dengan masalah keduniawian atau keakhiratan. Lebih lanjut dikatakan bekerja adalah aktivitas dinamis dan mempunyai tujuan untuk memenuhi kebutuhan tertentu (jasmani dan rohani) dan di dalam mencapai tujuannya tersebut dia berupaya dengan penuh kesungguhan untuk mewujudkan prestasi yang optimal sebagai bukti pengabdian dirinya kepada Allah SWT.
Di dalam kaitan ini, Al-Qur’an banyak membicarakan tentang aqidah dan keimanan yang diikuti oleh ayat-ayat tentang kerja, pada bagian lain ayat tentang kerja dikaitkan dengan masalah kemaslahatan, terkadang dikaitkan juga dengan hukuman dan pahala di dunia dan di akhirat. Al-Qur’an juga mendeskripsikan kerja sebagai suatu etika kerja positif dan negatif.
Dalam surat An-Nahl ayat 97yang artinya:
“Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.” (QS An-Nahl: 97)
Dalam ayat diatas sedikit menjelaskan tentang amal shaleh yang hendaknya dilakukan oleh setiap muslim, salah satunya dengan bekerja yaitu sama artinya dengan kita mengerjakan amal shaleh. Dengan kita bekerja itu artinya kita bergerak untuk melakukan sesuatu. Sesuatu itu hendaklah bermanfaat dengan jalan yang baik dan diridhai Allah swt. Adapun bekerja yang bernilai ukhrawi, yaitu dengan;
1.      Niat
2.      Sungguh-sungguh/ Profesional
3.      Jujur/ Amanah
4.      Etis
5.      Patuh pada nilai-nilai syari’ah
6.      Menghindari syubhat
7.      Bersikap Ihsan
Adapun dalam ayat lain disebutkan bahwa;
 “Barangsiapa mengerjakan perbuatan jahat, maka dia tidak akan dibalasi melainkan sebanding dengan kejahatan itu. Dan barangsiapa mengerjakan amal yang saleh baik laki-laki maupun perempuan sedang ia dalam keadaan beriman, maka mereka akan masuk surga, mereka diberi rezki di dalamya tanpa hisab.” (QS Al Mu’min :40)
Dan ayat diatas menjelaskan tentang balasan bagi siapa saja mereka yang melakukan perbuatan jahat, dan balasan bagi mereka yang mengerjakan amal yang shaleh. Jadi jelas bahwa segala perbuatan yang hendak kita lakukan harus dipikirkan dulu apakah perbuatan itu baik, diridhai Allah, juga apa dampak ataupun manfaat bagi kita khususnya dan bagi orang lain umumnya, dan yang lainnya. Intinya adalah segala sesuatu yang hendak kita lakukan harus kita pikirkan dahulu dengan baik dan dapat dipertanggungjawabkan kepada diri kita sendiri, orang lain, dan khusunya Allah swt.
Hadist
Begitu pula dalam al-Hadits mengenai kerja ini juga banyak diulas, Rasulullah bersabda: “Bekerjalah untuk duniamu seakan-akan kamu hidup selamanya, dan beribadahlah untuk akhiratmu seakan-akan kamu mati besok.” Dalam ungkapan lain dikatakan juga, “Tangan di atas lebih baik dari pada tangan di bawah, Memikul kayu lebih mulia dari pada mengemis, Mukmin yang kuat lebih baik dari pada mukslim yang lemah. Allah menyukai mukmin yang kuat bekerja.”
Dari hadist diatas menerangkan bahwa kerja adalah suatu yang dianjurkan untuk dilakukan, karena bagaimanapun bekerja tidak dapat dipisahkan dengan kehidupan dunia kita. Karena kerja berarti juga melakukan amal shaleh, yaitu beramal shaleh untuk mendapat berkah dan pahala dari Allah swt, dan melakukan hubungan silaturahmi yang baik melalui kegiatan bermuamalah dengan sesama manusia.  Bekerja yang baik adalah dengan mencari pekerjaan yang baik, begitupun kita yang melakukan pekrjaan tersebut harus biasa mnjadi pekerja yang tekun, ulet, rapi, teliti, dan disertai dengan iman dan taqwa.
 “Sesungguhnya Allah mencintai salah seorang diantara kamu yang melakukan pekerjaan dengan itqon (tekun, rapi dan teliti).” (HR. al-Baihaki)
Dalam memilih seseorang ketika akan diserahkan tugas, rasulullah melakukannya dengan selektif. Diantaranya dilihat dari segi keahlian, keutamaan (iman) dan kedalaman ilmunya. Beliau senantiasa mengajak mereka agar itqon dalam bekerja. Pandangan Islam tentang pekerjaan perlu kiranya diperjelas dengan usaha sedalam-dalamnya. Sabda Nabi SAW yang amat terkenal bahwa nilai-nilai suatu bentuk kerja tergantung pada niat pelakunya.
“Sesungguhnya (nilai) pekerjaan itu tergantung pada apa yang diniatkan.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Tinggi rendahnya nilai kerja itu diperoleh seseorang tergantung dari tinggi rendahnya niat. Niat juga merupakan dorongan batin bagi seseorang untuk mengerjakan atau tidak mengerjakan sesuatu. Nilai suatu pekerjaan tergantung kepada niat pelakunya yang tergambar pada firman Allah swt agar kita tidak membatalkan sedekah (amal kebajikan) dan menyebut-nyebutnya sehingga mengakibatkan penerima merasa tersakiti hatinya.
Adanya keterkaitan individu terhadap Allah, kesadaran bahwa Allah melihat, mengontrol dalam kondisi apapun. Kesadaran inilah yang menuntut individu untuk bersikap cermat dan bersungguh-sungguh dalam bekerja, berusaha keras memperoleh keridhaan Allah dan mempunyai hubungan baik dengan sesamanya. Dalam sebuah hadis rasulullah bersabda, “Sebaik-baiknya pekerjaan adalah usaha seorang pekerja yang dilakukannya secara tulus.” (HR Hambali)
Maka dapat disimpulkan bahwa taqwa merupakan dasar utama kerja, apapun bentuk dan jenis pekerjaan, maka taqwa merupakan petunjuknya. Memisahkan antara taqwa dengan iman berarti mengucilkan Islam dan aspek kehidupan dan membiarkan kerja berjalan pada wilayah kemashlahatannya sendiri. Perlu kiranya dijelaskan disini bahwa kerja mempunyai etika yang harus selalu diikut sertakan didalamnya, oleh karenanya kerja merupakan bukti adanya iman dan barometer bagi pahala dan siksa. Hendaknya setiap pekerjaan disampung mempunyai tujuan akhir berupa upah atau imbalan, namun harus mempunyai tujuan utama, yaitu memperoleh keridhaan Allah SWT.

1 komentar: