Kerja dalam pengertian luas
adalah semua bentuk usaha yang dilakukan manusia, baik dalam hal materi maupun
non-materi, intelektual atau fisik maupun hal-hal yang berkaitan dengan masalah
keduniawian atau keakhiratan. Lebih lanjut dikatakan bekerja adalah aktivitas
dinamis dan mempunyai tujuan untuk memenuhi kebutuhan tertentu (jasmani dan
rohani) dan di dalam mencapai tujuannya tersebut dia berupaya dengan penuh
kesungguhan untuk mewujudkan prestasi yang optimal sebagai bukti pengabdian
dirinya kepada Allah SWT.
Di
dalam kaitan ini, Al-Qur’an banyak membicarakan tentang aqidah dan keimanan
yang diikuti oleh ayat-ayat tentang kerja, pada bagian lain ayat tentang kerja dikaitkan
dengan masalah kemaslahatan, terkadang dikaitkan juga dengan hukuman dan pahala
di dunia dan di akhirat. Al-Qur’an juga mendeskripsikan kerja sebagai suatu
etika kerja positif dan negatif.
Dalam
surat An-Nahl ayat 97yang artinya:
“Barangsiapa
yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan
beriman maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan
sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik
dari apa yang telah mereka kerjakan.” (QS An-Nahl: 97)
Dalam
ayat diatas sedikit menjelaskan tentang amal shaleh yang hendaknya dilakukan
oleh setiap muslim, salah satunya dengan bekerja yaitu sama artinya dengan kita
mengerjakan amal shaleh. Dengan kita bekerja itu artinya kita bergerak untuk
melakukan sesuatu. Sesuatu itu hendaklah bermanfaat dengan jalan yang baik dan
diridhai Allah swt. Adapun bekerja yang bernilai ukhrawi, yaitu dengan;
1.
Niat
2.
Sungguh-sungguh/
Profesional
3.
Jujur/
Amanah
4.
Etis
5.
Patuh
pada nilai-nilai syari’ah
6.
Menghindari
syubhat
7.
Bersikap
Ihsan
Adapun
dalam ayat lain disebutkan bahwa;
“Barangsiapa mengerjakan perbuatan jahat, maka
dia tidak akan dibalasi melainkan sebanding dengan kejahatan itu. Dan barangsiapa
mengerjakan amal yang saleh baik laki-laki maupun perempuan sedang ia dalam
keadaan beriman, maka mereka akan masuk surga, mereka diberi rezki di dalamya
tanpa hisab.” (QS Al Mu’min :40)
Dan
ayat diatas menjelaskan tentang balasan bagi siapa saja mereka yang melakukan
perbuatan jahat, dan balasan bagi mereka yang mengerjakan amal yang shaleh.
Jadi jelas bahwa segala perbuatan yang hendak kita lakukan harus dipikirkan
dulu apakah perbuatan itu baik, diridhai Allah, juga apa dampak ataupun manfaat
bagi kita khususnya dan bagi orang lain umumnya, dan yang lainnya. Intinya
adalah segala sesuatu yang hendak kita lakukan harus kita pikirkan dahulu
dengan baik dan dapat dipertanggungjawabkan kepada diri kita sendiri, orang
lain, dan khusunya Allah swt.
Hadist
Begitu pula dalam al-Hadits
mengenai kerja ini juga banyak diulas, Rasulullah bersabda: “Bekerjalah untuk
duniamu seakan-akan kamu hidup selamanya, dan beribadahlah untuk akhiratmu
seakan-akan kamu mati besok.” Dalam ungkapan lain dikatakan juga, “Tangan di
atas lebih baik dari pada tangan di bawah, Memikul kayu lebih mulia dari pada
mengemis, Mukmin yang kuat lebih baik dari pada mukslim yang lemah. Allah
menyukai mukmin yang kuat bekerja.”
Dari
hadist diatas menerangkan bahwa kerja adalah suatu yang dianjurkan untuk
dilakukan, karena bagaimanapun bekerja tidak dapat dipisahkan dengan kehidupan
dunia kita. Karena kerja berarti juga melakukan amal shaleh, yaitu beramal
shaleh untuk mendapat berkah dan pahala dari Allah swt, dan melakukan hubungan
silaturahmi yang baik melalui kegiatan bermuamalah dengan sesama manusia. Bekerja yang baik adalah dengan mencari
pekerjaan yang baik, begitupun kita yang melakukan pekrjaan tersebut harus biasa
mnjadi pekerja yang tekun, ulet, rapi, teliti, dan disertai dengan iman dan
taqwa.
“Sesungguhnya Allah mencintai salah seorang
diantara kamu yang melakukan pekerjaan dengan itqon (tekun, rapi dan teliti).”
(HR. al-Baihaki)
Dalam
memilih seseorang ketika akan diserahkan tugas, rasulullah melakukannya dengan
selektif. Diantaranya dilihat dari segi keahlian, keutamaan (iman) dan
kedalaman ilmunya. Beliau senantiasa mengajak mereka agar itqon dalam bekerja. Pandangan
Islam tentang pekerjaan perlu kiranya diperjelas dengan usaha sedalam-dalamnya.
Sabda Nabi SAW yang amat terkenal bahwa nilai-nilai suatu bentuk kerja tergantung
pada niat pelakunya.
“Sesungguhnya
(nilai) pekerjaan itu tergantung pada apa yang diniatkan.” (HR. Bukhari dan
Muslim).
Tinggi
rendahnya nilai kerja itu diperoleh seseorang tergantung dari tinggi rendahnya
niat. Niat juga merupakan dorongan batin bagi seseorang untuk mengerjakan atau
tidak mengerjakan sesuatu. Nilai suatu pekerjaan tergantung kepada niat
pelakunya yang tergambar pada firman Allah swt agar kita tidak membatalkan
sedekah (amal kebajikan) dan menyebut-nyebutnya sehingga mengakibatkan penerima
merasa tersakiti hatinya.
Adanya
keterkaitan individu terhadap Allah, kesadaran bahwa Allah melihat, mengontrol
dalam kondisi apapun. Kesadaran inilah yang menuntut individu untuk bersikap
cermat dan bersungguh-sungguh dalam bekerja, berusaha keras memperoleh
keridhaan Allah dan mempunyai hubungan baik dengan sesamanya. Dalam sebuah
hadis rasulullah bersabda, “Sebaik-baiknya pekerjaan adalah usaha seorang
pekerja yang dilakukannya secara tulus.” (HR Hambali)
Maka
dapat disimpulkan bahwa taqwa merupakan dasar utama kerja, apapun bentuk dan
jenis pekerjaan, maka taqwa merupakan petunjuknya. Memisahkan antara taqwa
dengan iman berarti mengucilkan Islam dan aspek kehidupan dan membiarkan kerja
berjalan pada wilayah kemashlahatannya sendiri. Perlu kiranya dijelaskan disini
bahwa kerja mempunyai etika yang harus selalu diikut sertakan didalamnya, oleh
karenanya kerja merupakan bukti adanya iman dan barometer bagi pahala dan
siksa. Hendaknya setiap pekerjaan disampung mempunyai tujuan akhir berupa upah
atau imbalan, namun harus mempunyai tujuan utama, yaitu memperoleh keridhaan
Allah SWT.
texs haditnya ada gak mbakkkkkkkkkkkk
BalasHapus